Photobucket"
Tampilkan postingan dengan label Tata Kelola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tata Kelola. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Oktober 2010

Pengelolaan Bahan Kimia dan Bahan Berbahaya dan Beracun (Bahan B3)

(Maukita@TataKelola)Penggunaan bahan kimia dan bahan berbahaya dan beracun (B3) telah akrab di kehidupan sehari-hari maupun dalam aktifitas industri. Karena karakteristik dan dampaknya, bahan kimia dan B3 harus dikelola penggunaan dan penyimpananya. Mengingat akhir-akhir ini, sering sekali terjadi kasus-kasus yang terkait dengan Bahan Berbahaya dan Beracun, sehingga perusahaan perlu memberikan perhatian yang intens dan terus menerus untuk hal ini.
Sejak diberlakukannya Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2001 tentang pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3), Kementerian Negara Lingkungan Hidup mempunyai kewenangan untuk mengawasi penggunaan bahan berbahaya dan beracun dari aspek pelestarian lingkungan hidup. Kewenangan ini merupakan hal baru karena selama ini Kementerian tersebut hanya berwenang mengawasi pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (Limbah B3) saja.
Perusahaan dituntut untuk melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) sesuai dengan yang disyaratkan oleh Peraturan Pemerintah tersebut diatas dan juga pengetahuan teknis implementasinya, seperti: pemahaman karakteristik dan identifikasi B3, dampak lingkungannya, lembar data keselamatan bahan (MSDS), pelabelan & simbol, penyimpanan, pengangkutan, penanganan keadaan darurat dan memastikan pengelolaannya di perusahaan
Pengelolaan B3 tidak semata-mata untuk memenuhi peraturan yang berlaku, tetapi juga merupakan kebutuhan bagi perusahaan. Pengelolaan B3 terkait dengan meningkatnya keamanan dan keselamatan pekerja karena dapat menekan resiko kecelakaan kerja yang terjadi. Dengan demikian perusahaan secara tidak langsung telah melindungi aset sumber daya manusia dalam perusahaan dan dapat memperbesar saving cost. Mau Tahu Cara Kelola B3, Klik DISINI

Sabtu, 09 Oktober 2010

Peraturan Perundangan Lingkungan Hidup dan Cara Pemenuhannya


(Maukita@Tata Kelola) Munculnya Undang-undang 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) menunjukkan betapa penegakan peraturan dan hukum lingkungan semakin diperketat. Undang–undang tersebut mengamanatkan tanggung jawab yang besar bagi pemerintah (Pusat, Provinsi, Kabupaten dan Kota)  maupun perusahaan.

                UU 32 Tahun 2009 sebagai pengganti UU 23 Tahun 1997 tersebut mengatur secara sistematis mengenai pengelolaan lingkungan mulai dari perencanaan, instrumen pengendalian, hingga sanksi. Terdapat penguatan dan penegasan aturan seperti AMDAL, fungsi PPLH-PPNS dan mekanisme penegakan hukum. Beberapa terobosan baru muncul dalam UU tersebut misalnya, mangenai izin lingkungan bagi perusahaan, penetapan inventarisasi serta perencanaan pengelolaan lingkungan bagi pemerintah, hingga sanksi untuk pejabat pemerintah.

Tanpa pemahaman yang memadai tentang hak dan kewajiban yang diatur dalam peraturan perundangan tersebut, sulit bagi perusahaan dan pemerintah (Pusat, Provinsi, Kabupaten dan Kota) untuk menerapkan dan menegakkan hukum tersebut, sehingga mudah terkena permasalahan pertanggung-jawaban lingkungan (environmental liability).
Dengan  memiliki sumber daya manusia di perusahaan dan pemerintah (Pusat, Provinsi, Kabupaten dan Kota) yang memahami peraturan lingkungan akan memberikan banyak manfaat, diantaranya mempermudah dalam:
- Menjalankan hak dan kewajiban
- Melakukan penegakan hukum lingkungan
- Mempertajam pemahaman sehingga mampu memberikan umpan balik yang berkaitan dengan perundangan.
- Mengidentifikasi dan mengusulkan Perda lingkungan yang relevan untuk daerah
- Mengelola stakeholder (pelaku usaha, dinas daerah, masyarakat sekitar, LSM, investor, dll)

Semua sistem dan program lingkungan seperti ISO 14001, RSPO, AMDAL, UKL-UPL, audit lingkungan dan PROPER memerlukan pemahaman yang baik mengenai peraturan perundangan lingkungan ini. Salah satu cara untuk memahami semua hal ini adalah dengan mengikuti Seminar, Pelatihan, Kajian dan Sosialisasi yang diselenggarakan Oleh Pemerintah/Penyelenggara Indipenden maupun Akademisi. Selengkapnya, Silahkan  Klik DISINI.




Minggu, 25 Juli 2010

Profil Pemimpin Efektif.

(Maukita@manajeman)Bagaimana menjadi seseorang yang mampu melakukan kepemimpinan secara efisien dan efektif? Berbagai buku serta literatur telah banyak membahas hal ini. Namun dalam tulisan ini ada beberapa componen yang harus dimiliki agar memenuhi syarat tersebut.
Berikut ini ádalah komponen yang harus dimiliki seorang pemimpin yang efektif dan efisien. Menurut Ruth M. Tappen dalam buku “Nursing Leadership and Management : Concepts and Practice” (1995) 3th ed. adalah Knowledge, Self Awareness, Communication, Energy, Goals dan Action


KNOWLEDGE/PENGETAHUAN.
Seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan yang baik tentang kepemimpinan dan ilmu tentang ruang lingkup kerja profesinya yang terdiri dari pengetahuan kognitif maupun skill/keterampilan. Seorang pemimpin akan dihadapkan pada situasi tertentu dimana dia harus mengambil keputusan yang tepat dalam menyelasaikan masalah. Dasar untuk pengambilan keputusan yang tepat adalah pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis yang dimiliki.
Oleh karena itu untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif yang mampumengambil keputusan yang tepat dalam suatu situasi tertentu maka haus memiliki pengetahuan tentang :

a. Leadership/kepemimpinan
Seorang pemimpin harus mengetahui tentang konsep kebutuhan dasar manusia, teori motivasi, teori bekerja dalam kelompok dan ilmu perilaku. Dengan pengetahuan tersebut maka ia akan lebih bisa memahami karakter anak buah/bawahannya dan hal ini bisa membantu leader dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan pada bawahan agar dapat mempengaruhi motivasi dan perilakunya agar dapa bekerja sama dalam mencapai tujuan.
Seorang pemimpin juga harus mengetahui gaya-gaya kepemimpinan yang sesuai untuk situasi-situasi tertentu sehingga dapat mengambil sikap yang tepat dalam situasi tertentu. Leader juga harus memiliki visi yang jelas dan harus mensosialissikan dan mengkomunikasikan visi tersebut kepada bawahan sehingga bawahan bekerja bukan karena terpaksa tapi karena mereka juga menginginkan hal tersebut.
Beberapa orang memang terlahir dengan bakat dan karakter seorang pemimpin tapi sifat dan karakter kepemimpinan bisa dipelajari dan dilatih agar dapat menjadi pemimpin yang efekif dan efisien.

b. Pengetahuan tentang lingkup profesi
Seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan yang baik tentang lingkup kerja profesinya baik pengetahuan kognitif maupun skill atau keterampilan sehingga dia bisa menjadi role model dan panutan bagi bawahan, dapa menambah dn memberikan energi positif pada bawahan dalam melaksanakan tugas.

c. Critical thinking / berpikir kritis
Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan berpikir kritis dalam hal pengambilan keputusan yang tepat untuk kepentingan klien maupun dalam memberikan arahan kepada bawahan. Hasil dari berpikir kritis akan ditemukan metoda baru yang lebih efekif sehingga bawahan bekerja bkan hanya sekedar mlakukan hal yang telah menjadi rutinitas tapi bisa mencoba hal baru yang lebih positif.

SELF AWARENESS/KESADARAN DIRI.
Pemimpin yang baik harus mengenal dirinya dengan baik, diawali dengan mengevaluasi kekurangan dan kelebihan yang dimiliki sehingga kekurangan tersebut dapat ditingkatkan. Perlu juga evaluasi tentang perasaan dan situasi yang berhubungan serta mekanisme koping yang dilakukan. Identifikasi koping yang dilakukan serta perbaiki koping yang destruktif atau maladaptive kearah koping yang konstruktif atau tidak merugikan dan menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Dengan kesadaran diri yang baik kita akan menyadari bahwa tak ada manusia yang sempurna, setiap orang berhak untuk mengalami dan mengekspresikan rasa senang, sedih, kecewa, bahagia, cemas dn sebagainya. Seorang pemimpin yang baik harus bisa mengenali tanda-tanda ini pada bawahannya dan selalu berusaha belajar cara mengahadapi kondisi yang ada dengan cara yang baik.
Kesadaran diri yang baik akan membangun rasa empati yang akan membentuk rasa kedekatan, kepercayaan dengan bawahan sehingga akan membangun suasana kerja yang harmonis, saling menghargai dengan bawahan sehingga memudahkan dalam kerja sama dalam mencapai tujuan. Seorang pemimpin yang baik tidak ragu untuk meminta evaluasi dari bawahan tentang gaya kepemmpinannya dan begitu pula sebaliknya. Masukan-masukan tersebut dijadikan motivasi untuk merubah diri kearah yang lebih baik.

KOMUNIKASI
Komunikasi adalah jantungnya kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik terhadap teman maupun bawahan karena komunikasi yang baik adalah merupakan satu strategi dalam mempengaruhi orang lain.
Teknik komunikasi yang harus dimilki diantaranya :

a. Mendengar aktif (active listening)
Pemimpin yang baik akan memahami bahwa mendengarkan bawahan akan membuat mereka merasa dihargai dan merupakan sarana untuk mendapatkan feed back dari mereka. Lakukan klarifikasi dengan pertanyaan yang tepat dan tidak menyakiti untuk mendapatkan infomasi yang akurat dalam mengambil keputusan. Mendengar aktif akan membuat bawahan dapat mengungkapkan perasaan sehingga kebutuhan psikologisnya dapat terpenuhi dan sekaligus mengurangi rasa cemas yang dirasakannya.

b. Menyusun arah/arus informasi
Pemimpin harus membentuk alur komunikasi yang efektif sehingga dapat menghindari terjadinya miskomunikasi yang baik antara leader dengan bawahan, bawahan dengan rekan kerja maupun dengan pasien. Oleh karena itu pemimpin yang baik harus membangun suasana atau alur komunikasi yang baik pada saat bertemu maupun tidak bertatap muka.

c. Asertif
Pemimpin yang baik harus mempunyai sifat asertif terhadap bawahan. Leader harus menyediakan waktu untuk menerima masukan baik dari pasien maupun dari bawahan dan begitu pula sebaliknya. Masukan disampaikan dengan cara yang membangun, jelas, konstruktif dan tidak menyakiti.
Seorang pemimpin yang baik apabila menemukan kesalahan yang dilakukan oleh bawahan tidak mengeluarkan kata-kata yang membuat bawahan tersebut merasa sangat bersalah dan menyakiti hatinya. Feedback yang baik adalah memberikan kata yang bijak tanpa menyakiti diikuti dengan pemberian informasi tentang apa yang seharusnya dilakukan

d. Saling memberi umpan balik
Anggota tim atau bawahan membutuhkan evaluasi atau feedback seperti halnya pemimpin. Feedback berfungsi untuk meningkatkan self awareness/kesadaran diri mencegah asumsi negatif terhadap perilaku seseorang dan untuk menjadi petunjuk dan motivasi dalam proses perubahan kearah yang lebih baik.

e. Linking dan networking
Seorang pemimpin harus memiliki jalur dan akses yang jelas dan mudah baik dalam memperoleh informasi terbaru maupun dalam melakukan komunikasi dengan profesi atau instansi lain yang dapat dijadikan tim dalam bekerjasama dalam menyelesikan suatu masalah yang ada. Pemimpin harus mempunyai pergaulan yang luas dengan profesi lain sehingga memudahkan dalam menjalin kerjasama.

f. Mengkomunikasikan visi
Seorang pemimpin harus mempunyai visi yang jelas dan harus mengkomnikasikan dengan baik kepada bawahannya. Kemampuan mengkomunikasikan visi dengan baik akan dapat membangun motivasi, kerjasama dan memberikan energi yang baik bagi bawahan dalam bekerja ntuk mencapai tujuan. Visi yang jelas dan menarik akan membuat bawahan termotivasi untuk bekerja bukan karena keterpaksaan tapi karena merteka juga menginginkan hal itu.

ENERGI
Seorang pemimpin harus terus menerus tampil dengan energi yang baik dalam penampilan dan pekerjaannya. Untuk memiliki energi yang baik dan semangat yang baik maka seorang pemimpin harus memiliki rasa percaya diri dan memiliki hidup yang seimbang sehingga energi dapat terus menerus terjaga.
Energi atau semangat yang dimiliki oleh seseorang akan dapat ditularkan keorang lain. Seperti halnya kita bisa sedih dengan kesedihan orang lain, kita bisa bahagian dengan kebahagiaan orang lain dan kita juga bisa semangan dan penuh energi karena teman dilingkungan kita juga penuh semangat.
Pemimpin yang selalu terlihat semangat dalam penampilan dan bekerja akan memotivasi bawahan untuk meningkatkan motivasi dan produktivitas kerjanya. Energi yang dimiliki seorang pemimpin akan mempengaruhi respon bawahan terhadap dirinya maupun terhadap pekerjaan yang dilakukan.

GOALS/TUJUAN
Tujuan adalah apa yang akan diralisasikan atau arah yang akan dicapai, alasan seseorang dan merupakan motivasi untuk berbuat sesuatu/ melakukan pekejaan tertentu. Seorang pemimpin harus mempunyai tujuan yang jelas yang meliputi Apa. Siapa, Kenapa dan Bagaimana. Tujuan ini kemudian harus dikomunikasikan dengan bawahan agar mereka bisa menerima, memahami dan menyetujui tujuan tersebut sehingga dapat didiskusikan bersama cara pencapaiannya.

ACTION/TINDAKAN
Seorang pemimpin yang baik adalah pandai dalam mengambil keputusan yang tepat dan berorientasi pada tindakan/action. Untuk dapat mengambil keputusan dan bertindak dengan baik maka seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan, kesadaran diri, kemampuan berkomunikasi dengan baik, energi, dan tujuan yang jelas. Seorang pemimpin harus menjadi role model yang baik dalam cara kepemimpinannya, dalam pelaksanaan tugas maupun dalam membangun kerja sama dan bekerja sama dengan orang lain termasuk dengan bawahannya.
Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan dan keterampilan profesionalisme yang tinggi yang dikarakteristikkan dengan pengetahuan dan keterampilan yang baik. Mempunyai kemampuan perencanaan yang baik, koordinasi, evaluasi dan organisasi bawahan dengan baik sekaligus juga sebagai support sistem dan role model yang baik bagi bawahannya.
Seorang pemimpin harus selalu penuh semangat dan memiliki energi yang besar sehingga dapat mempengaruhi bawahan untuk meningkatkan produktivitas dalam bekerja. Pemimpin yang baik selalu penuh inisiatif dan berani mengambil resiko dalam menerapkan hal baru yang berguna dalam mempermudah dan mempercepat proses pencapaian tujuan dan berani menghadapi pihak lain yang tidak sejalan dengannya dan teguh memperjuangkan kebenaran yang diyakininya.
Dari keenam komponen yang harus dimiliki seorang pemimpin yang efektif diatas kemudian disempurnakan oleh Ruth M. Tappen dalam buku essential of nursing leadership and management.3th ed. (2004), bahwa seorang pemimpin yang efektif harus memiliki kualitas diri dan kualitas perilaku sebagai berikut :
Kualitas diri : integritas, Berani mengambil resiko, inisiatif, energy, optimis, pantang menyerah(perseverance), seimbang, Kemampuan menghadapi stress, dan Kesadaran diri serta memiliki Kualitas perilaku seperti: Berpikir kritis, Menyelesaikan masalah (solve problem), Menghormati/menghargai orang lain, Kemampuan berkomunikasi yang baik, Punya tujuan dan mengkomunikasikan visi dan meningkatkan kemampuan diri dan orang lain. #Dari Rajawana#.

Jumat, 23 Juli 2010

Mengapa Prosedur tak dipatuhi.


(Maukita@manajemen) Keluhan umum dari seorang manager atau seorang Management Representative dalam menerapkan sistem manajemen adalah 'Sulitnya membuat karyawan mengikuti prosedur'. Prosedur sudah dirancang dengan susah payah; melalui pemetaan proses, identifikasi potensial error, mencari peluang perbaikan, mempelajari berbagai konsep dan seterusnya hingga menjadi sebuah aturan. Sang manajer yakin bahwa prosedur-prosedur itu akan membawa manfaat. Memperbaiki lead time proses, mengurangi kesalahan dan sebagainya. Semua hal yang ada di prosedur adalah hal-hal yang logis semata, yang dapat diterima dengan akal sehat oleh siapapun termasuk oleh karyawan yang terlibat menerapkannya. Tetapi mengapa mereka mengabaikan?

Penerapan suatu prosedur, baik prosedur baru atau revisi memerlukan perubahan aktifitas karyawan. Dalam teori psikologi, perubahan yang lancar, efektif dan permanen selalu memerlukan 3 tahap: Defreezing, Changing, Refreezing.

Tahap defreezing adalah mencairkan apa yang telah membeku. Tahap ini adalah tahap pengkondisian, mencakup mempertanyakan suatu kebiasaan yang sudah lama dilakukan, membahas masalah-masalah yang ada, ide-ide yang lebih baik yang telah dilakukan oleh orang lain, kampanye dan sebagainya. Intinya, tahap defreezing adalah tahap untuk mempengaruhi orang agar mempunyai alasan sendiri dan membangun kesadaran sendiri untuk melakukan perubahan. Kebanyakan perubahan tidak berjalan dengan lancar atau gagal sama sekali disebabkan gagalnya tahap defreezing, tahap pengkondisian.

Tahap Changing intinya mulai mengubah kebiasaan tapi juga mencakup pengubahan hal-hal lain yang diperlukan; mungkin diperlukan untuk mengubah kompetensi seseorang, mungkin mengubah tugas, mengubah peralatan dan sebagainya. Tahap ini akan lebih mudah bila tahap derfeezing sudah dilakukan. Seperti meluruskan logam yang bengkok, yang lebih mudah bila dipanaskan dulu untuk mencairkan ikatan beku didalamnya.

Tahap refreezing adalah tahap pembekuan kembali. Tahap ini adalah upaya untuk menjaga agar prubahan menjadi permanen, orang tidak kembali pada cara atau kebiasaan lama. Tahap ini mencakup pemantauan, pemberian dukungan bila timbul masalah dalam perubahan dan evaluasi tentang hasil dari perubahan.

Ketiga tahap tersebut sama pentingnya untuk melakukan suatu perubahan. Bila tahap defreezing dilewatkan, maka yang terjadi adalah pemaksaan kekuasaan. Karyawan harus berubah, tak perduli dia mengerti atau tidak alasan perubahan dan manfaatnya. Pemaksaan akan cepat menghasilkan perubahan awal tapi memerlukan pengawasan yang ketat terus menerus. Begitu pengawasan melonggar, karyawan akan kembali ke cara lama dengan seribu satu alasan.

Yang terbaik adalah melewati ketiga tahapan tersebut, ditambah dengan melibatkan karyawan dalam perencanaan perubahan aktifitas mereka sendiri. Strategi ini membuat karyawan memulai perubahan dari dalam diri mereka sendiri sekaligus merasa bertanggung jawab secara personal untuk mencapai tujuan dari perubahan.

Kembali ke masalah prosedur, mengapa karyawan sulit mengikuti prosedur baru? Pertanyaannya menjadi: Strategi yang telah digunakan? Bila karyawan tiba-tiba disodori sebuah prosedur baru dan sang manajer mangatakan 'ini prosedur baru, tahapannya bla bla bla dan harus diterapkan mulai sekarang', maka ini adalah pemaksaan. Tidak ada tahap defreezing. Jangan heran bila karyawan akan segera kembali ke cara lama. Panaskan dulu logamnya, kecuali sang manajer mempunyai kekuatan amat besar.#tury96#

Sumber:Ir. Iim Ibrohim, Konsultan manajemen